MBS Putri Cisaat
MOTTO MBS Putri
PENDAFTARAN ONLINE

Penerimaan Santri Baru

princeton-97827_1280

Bismillah, Silakan klik di sini untuk melihat detail lengkapnya.

Kegiatan MBS Putri

san-jose-92464_1280

Kegiatan santriwati MBS Putri dirancang secara padu dan intensif untuk mencetak lulusan muslimah yang berkarakter, mandiri, berilmu, dan terampil.

Galeri Foto MBS Putri

academic-2769_1280

Album Kompilasi Kegiatan Awal para Santriwati Belajar d MBS Putri Cisaat.

Janji Pelajar Muhammadiyah




JANJI PELAJAR MUHAMMADIYAH

بِسْمِ اللّه الرّحْمٰنِ الرّحِيْم
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِيْناً وَبِمُحَمَّدٍ نَّبِياًّ وَّرَسُوْلاً

Kami pelajar Muhammadiyah berjanji:

  1. Taat beribadah dan menjunjung tinggi toleransi
  2. Cerdas, kritis, dan cinta ilmu pengetahuan
  3. Sehat jiwa dan raga
  4. Menjaga kehormatan diri, keluarga, organisasi, dan tanah air
  5. Mandiri, berintegritas, dan murah hati
  6. Cinta lingkungan dan menjadi rahmat bagi semesta alam




LAGU SANG SURYA

 LAGU SANG SURYA






Ciptaan: Djarnawi Hadikoesoemo

Sang Surya tetap bersinar
Syahadat dua melingkar
Warna yang hijau berseri
Membuatku rela hati

Ya Allah Tuhan Rabiku
Muhammad Junjunganku
Al Islam agamaku
Muhammadiyah gerakanku

Di timur fajar cerah gemerlapan
Menguri kabut hitam
Menggugah kaum muslimin
Tinggalkan peraduan
Lihatlah matahari telah tinggi
Di ufuk timur sana
Seruan Ilahi Rabi Sami’na watha’na

Ya Allah Tuhan Rabbiku
Muhammad Junjunganku
Al Islam agamaku
Muhammadiyah gerakanku

Milad Nabi ala Muhammadiyah



Milad Nabi ala Muhammadiyah


Hari, Tanggal & Bulan Kelahiran Nabi

Pada bulan Rabi'ul awal / Mulud itulah, banyak sekali umat islam yang merayakan dan memperingati hari kelahiran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. meskipun para ulama telah berbeda pendapat tentang kapan sebenarnya Nabi yang mulia ini dilahirkan. salah satu ulama syafi'iyyah yakni Imam Ibnu Katsir, dalam Kitabnya Bidayah Wannihayah telah menjelaskan, tentang perbedaan pendapat para ulama tentang tahun, bulan, tanggal, hari hingga waktu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dilahirkan.

  • Sebagian ulama berpendapat, bahwa beliau lahir pada bulan Rabiul Awal
  • Yang lain berpendapat, beliau lahir bulan MuharramSafar dan Rajab
  • Ibnu Abdil Barr mengatakan  tanggal 12 Ramadhan
  • Sebagian ulama yang lain mengatakanpada tanggal 2, 9, 17 Rabiul Awal. 
  • Ibnu Hazm berpendapat bahwa kelahirannya pada tanggal 8 Rabiul Awal
  • Ibnu Ishaq berpendapat pada tanggal 12 Rabiul Awal

Ulama pun berbeda pendapat, tentang waktu kelahirannya; siang atau malam. Satu ulama berpendapat siang, yang lain mengatakan malam. Begitu juga dengan hari kelahirannya. Ada yang berpendapat Senin. Yang lain berpendapat Jumat. Seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yakni Ibnu Abbas, mengatakan bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin tanggal 18 Rabiul Awal. hal ini membuktikan bahwa tidak ada satupun diantara para ulama dan juga sahabat nabi yang tahu persis kapan beliau dilahirkan.

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Sedangkan ahli hisab dan falak meneliti bahwa hari Senin, hari lahir beliau bertepatan dengan 9 Rabi’ul Awwal. Dan inilah yang dinilai lebih tepat.

Rabi'ul Awal Bukan Bulan Haram/Mulya

Didalam surat At-Taubah, ayat yang ke-36, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّـهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّـهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (empat bulan yang Allah sucikan dan agungkan). Itulah (ketetapan) agama Allah yang lurus, maka jangan sekali-kali kalian mendzalimi diri kalian dalam bulan-bulan tersebut.” (QS. At-Taubah[9]: 36)

Dari Abi Bakrah Radhiyallahu ‘Anhu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّه السَّماواتِ والأَرْضَ: السَّنةُ اثْنَا عَشَر شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُم: ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقعْدة، وَذو الْحجَّةِ، والْمُحرَّمُ، وَرجبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya masa itu berputar sebagaimana keadaannya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya termasuk empat bulan haram: Tiga bulan berurutan; (11) Dzulqa’dah, (12) Dzulhijjah, (1) Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat antara bulan Jumadal Tsaniah dan Sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat ke-36 tadi:

ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

“Yang demikian itu merupakan ketetapan agama Allah yang lurus.”


Asul usul perayaan maulid

Menyadur laman detik.com, penulis AM Waskito dalam buku bertajuk Pro dan Kontra Maulid Nabi, peringatan kelahiran Baginda Rasulullah SAW itu sudah diperingati sejak ribuan tahun silam. Ada beberapa teori yang menyertainya, antara lain:
  • Kalangan Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang beraliran Syiah Ismailiyah (Rafidhah) memulai perayaan Maulid Nabi pada 362-567 hijriah (abad ke-10 Masehi). Saat itu, perayaan Maulid Nabi hanya dilakukan sebagai salah satu perayaan saja.
  • Maulid Nabi berasal dari kalangan ahlus sunnah oleh Gubernur Irbil di wilayah Irak, Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri. Dalam riwayatnya, sang gubernur mengundang para ulama, ahli tasawuf, ahli ilmu, dan seluruh rakyatnya, serta memberikan hidangan, hadiah, hingga sedekah kepada fakir miskin sebagai bentuk merayakan Maulid Nabi.
  • Teori lain menyebut peringatan Maulid Nabi diadakan pertama kali oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi atau Muhammad Al Fatih (1137-1193 M). Tujuannya untuk meningkatkan semangat jihad kaum Muslimin, selama masa Perang Salib melawan kaum Salibis dari Eropa dan merebut Yerusalem.
Hukum Mengadakan Peringatan Maulid Nabi

Pertanyaan tentang penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw pernah ditanyakan dan telah pula dijawab oleh Tim Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah. Untuk itu, disarankan membaca kembali jawaban-jawaban tersebut, yaitu terdapat dalam buku Tanya Jawab Agama terbitan Suara Muhammadiyah Jilid IV, Cetakan Ketiga, halaman 271-274, Majalah Suara Muhammadiyah No. 12 Tahun Ke-90 16-30 Juni 2005 dan juga di Majalah Suara Muhammadiyah No. 1 Tahun Ke-93 1-15 Januari 2008. Namun demikian, berikut ini akan kami sampaikan ringkasan dari dua jawaban yang telah dimuat sebelumnya tersebut.

Pada prinsipnya, Tim Fatwa belum pernah menemukan dalil tentang perintah menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi saw, sementara itu belum pernah pula menemukan dalil yang melarang penyelenggaraannya. Oleh sebab itu, perkara ini termasuk dalam perkara ijtihadiyah dan tidak ada kewajiban sekaligus tidak ada larangan untuk melaksanakannya. Apabila di suatu masyarakat Muslim memandang perlu menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi saw tersebut, yang perlu diperhatikan adalah agar jangan sampai melakukan perbuatan yang dilarang serta harus atas dasar kemaslahatan.

Perbuatan yang dilarang di sini, misalnya adalah perbuatan-perbutan bid’ah dan mengandung unsur syirik serta memuja-muja Nabi Muhammad saw secara berlebihan, seperti membaca wirid-wirid atau bacaan-bacaan sejenis yang tidak jelas sumber dan dalilnya. Nabi Muhammad saw sendiri telah menyatakan dalam sebuah hadis:

عَنْ عُمَرَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ. [رواه البخاري ومسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari Umar ra., ia berkata: Aku mendengar Nabi saw bersabda: Janganlah kamu memberi penghormatan (memuji/memuliakan) kepada saya secara berlebihan sebagaimana orang Nasrani yang telah memberi penghormatan (memuji/memuliakan) kepada Isa putra Maryam. Saya hanya seorang hamba Allah, maka katakan saja hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Instruksi PP Muhammadiyah

Bagi Muhammadiyah peringatan maulid nabi merupakan hal yang penting untuk dilakukan (sekali lagi bukan untuk ditinggalkan). Sedemikian pentingnya peringatan itu bagi Muhammadiyah, pada tahun 1976, Pimpinan Pusat Muhammadiyah merasa perlu untuk mengeluarkan instruksi agar Pimpinan Muhammadiyah, terutama Pimpinan Muhammadiyah Daerah dan Pimpinan Muhammadiyah Cabang mengadakan peringatan maulid nabi Muhammad. Berita tentang instruksi tertanggal 8 Muharram 1936/10 Januari 1976 ini dapat dibaca di Suara Muhammadiyah nomor 4 tahun 1976.

Dalam instruksi yang ditandatangani oleh Wakil Ketua II, HM Djindar Tamimiy dan Seketaris I, H Djarnawi Hadikusuma itu disebutkan kalau tanggal (pelaksanaan) peringatan maulid nabi itu diserahkan kepada PMD (sekarang PDM) dan PMC (PCM) masing-masing. Tidak harus tanggal 12 Rabiul Awal, boleh dilaksanakan (digeser) ke tanggal berapapun.

Tidak cukup sekedar instruksi, Ketua PP Muhammadiyah kala itu, KH AR Fachruddin (Ketua PP Muhammadiyah 1968-1990) juga menulis di Suara Muhammadiyah nomor 5 tahun 1976 yang pada intinya mengingatkan ulang arti penting peringatan maulid nabi bagi dakwah Islam dan syiar Muhammadiyah. Di tulisan ini Pak AR juga mengingatkan bahwa dalam memperingati maulid nabi, warga tidak terikat ketat oleh tanggal dua belas Rabiul Awwal dan tidak pula terikat dengan ritual upacaranya. Tulisan pak AR itu dapat dibaca di 

https://web.suaramuhammadiyah.id/2020/10/29/pak-ar-memanfaatkan-hari-maulid-nabi-muhammad-saw/.

Dari beberapa dokumen di atas dapat disimpulkan bahwa mengadakan peringatan Maulid Nabi dan menggeser tanggal peringatannya sudah menjadi tradisi Muhammadiyah

Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Tradisi dan Instruksi PP Muhammadiyah Tentang Peringatan Maulid Nabi, https://suaramuhammadiyah.id/read/tradisi-dan-instruksi-pp-muhammadiyah-tentang-peringatan-maulid-nabi

Visi & Misi MBS Putri



Visi & Misi 
MBS Putri Cisaat

Visi:

Terwujudnya kader Persyarikatan yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan berdaya saing di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Misi:

Menyelenggarakan program Tahsin, Tahfidz, dan Tafhim Al-Qur’an secara menyeluruh untuk mendalami nilai-nilai Al-Qur’an dan aplikasinya dalam kehidupan modern.

Mendorong penguasaan bahasa Arab dan Inggris sebagai medium komunikasi dan literasi global.

Mengamalkan Sunnah Rasulullah secara konsisten melalui pembinaan berasrama yang terpadu dan berkelanjutan.

Menyajikan kurikulum Pondok Pesantren Muhammadiyah (ISMUBA) yang integratif antara nilai keagamaan dan kemajuan ilmu pengetahuan kontemporer.

Membimbing dan memfasilitasi santri untuk menempuh pendidikan lanjutan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebagai investasi masa depan kader.

Memperkaya pengalaman kader melalui partisipasi aktif dalam organisasi otonom Muhammadiyah (IPM, HW, dan TS) guna membentuk karakter dan kapasitas intelektual.

Mempersiapkan kader yang faqih, berwawasan luas, berakhlak mulia, dan mampu berkontribusi positif dalam masyarakat berlandaskan Risalah Islam Berkemajuan yang rahmatan lil’alamin.

PPDB

Media Sosial

Halaman

Pengunjung Web MBS

Copyright © MBS Putri | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com